Cenderung dewasa ini kita sering lupa untuk menghargai sesama kita,
terkadang kita selalu ingin untuk dihargai,tanpa mau menghargai orang lain.
Di kantor kita ingin dihargai sesama rekan atau atasan kita, dijalan kita
selalu mau dihargai orang lain tanpa mau menghargai orang lain. pernah kah
anda bertanya pada diri sendiri, bagaimana mau dihargai oleh orang lain
kalau kita tidak menghargai orang lain terlebih dahulu. Lalu kemana sikap
saling menghargai Bangsa Indonesia Hilang?

Lalu bagaimana Cara memulai menghargai orang lain? sangatlah mudah. Carilah
kelebihan-kelebihan setiap orang yang anda temui maka anda akan melihatnya
sebagai orang yang berharga. Janganlah terus memancarkan keakuan diri kita,
merasa kita lebih pandai, lebih pintar, lebih kaya atau lebih
segala-galanya. Coba anda fikirkan apakah kita bisa disebut lebih pintar
kalau tidak ada orang yang bodoh?

Dalam Islam, sikap menghargai orang lain merupakan identitas seorang Muslim
sejati. Seorang yang mengakui dirinya Muslim, ‘wajib’ mampu menghargai orang
lain. Baginda Rasulullah SAW menjelaskan, “Tidak termasuk golongan umatku
orang yang tidak menghormati mereka yang lebih tua dan tidak mengasihi
mereka yang lebih muda darinya, serta tidak mengetahui hak-hak orang
berilmu.” (HR. Ahmad).

Tahukah Anda bahwa orang lain akan lebih menghargai orang yang menghargai
mereka? Nah, sebelum kita menuntut orang lain menghargai kita, kita perlu
terlebih dahulu menghargai mereka. Kuncinya hanya satu: buat orang lain
merasa penting dan berharga. dengan cara
a.) Kenali Orang-orang Sekitar
b.) Fokus pada Kelebihan (karena semua orang pasti punya kelemahan)
c.) Bangun Hubungan Saling Percaya
d.) Selalu Mulailah menyapa seseorang terlebih dahulu (jangan tunggu
ditegur)
e.) Selalu keluarkan Senyum yang tulus bagi setiap orang

Banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan jika kita mau menghargai orang
lain: kita bisa saling membantu, saling menguatkan, dan saling menguntungkan
sehingga hidup menjadi lebih menyenangkan karena untuk mendukung kesuksesan
kita kita butuh untuk bisa menghargai orang lain. Selalu sukses untuk
anda… semoga kita bisa memulai kehidupan bermasyarakat dengan baik
berdasarkan sikap saling menghargai

“Bertemu gajah lihat gadingnya, bertemu harimau lihat belangnya.”

Salam Sukses
Erwin Arianto

Qurban Kang Slamet

Masih jelas teringat di sedikit ruang hatiku, akan ketulusan seorang Tuna Netra bernama “Slamet”. Saat aku masih sekolah tingkat pertama di SMP Banyumas, Jawa Tengah Kala itu aku memutuskan untuk mencoba tinggal dan sekolah jauh dari orang tua yang berada di Jakarta. Aku tinggal bersama Bude di Desa Wogen, Kaliori Banyumas. Desa kami terletak persis di tepi sungai Serayu, yang kadang airnya hijau dan kadang coklat bila hujan turun. Sudah menjadi kebiasaan warga desa menjadikan sungai sebagai MCK.

Bukan karena malas mandi di sumur, tetapi karena keterbatasan kemampuan warganya untuk membuat sumur yang harganya cukup mahal. Hanya beberapa warga saja yang sanggup membuat sumur di rumah, dan warga yang tak mempunyai sumur akan meminta airnya untuk mengisi gentong persediaan minum dan memasak. Sementara untuk mandi, mencuci dan “membuang sisa olah makanan dalam perut” sudah tentu sungai Serayu tempatnya.

Adalah pemandangan umum, bila pagi hari para lelaki dewasa melakukan kegiatan “ngangsu”(mengambil air) dari sumur tetangga yang mampu. Tidak terkecuali Kang Slamet (begitu panggilan akrab kami untuknya) juga mempunyai kegiatan ngangsu tersebut. Meskipun dia belum lagi dewasa benar, mungkin umurnya hanya terpaut dua/tiga tahun denganku. Sungguh sebuah rutinitas cukup berat, meskipun menyehatkan.

Apalagi Kang Slamet tidak seberuntung kami yang mempunyai panca indera yang lengkap. Dengan intuisi dan kebiasaan karena rutin dilakukan, dia dapat pulang pergi dari rumah orang tuanya ke sumur terdekat tanpa pernah tersesat. Pekerjaan itu sudah dilakoninya semenjak dia berumur sembilan tahun, saat anak-anak sebayanya tertawa gembira pergi ke sekolah.

Di kampung kami belum tersedia sekolah khusus tuna netra, kalau pun ada belum tentu Kang Slamet dapat ikut mengenyam pendidikan SLB yang biayanya pasti mahal. Tak akan sanggup keluarga Kang Slamet yang hanya petani “kecil” membayar uang buku, karena untuk makan saja mereka hanya mengandalkan hasil tani dari secuil tanah yang mereka miliki.

Selain ngangsu, keseharian Kang Slamet adalah “ngarit”, mencari rumput untuk pakan ternak. Karena ketekunannya, banyak tetangga yang memelihara sapi atau kambing, memakai jasa beliau mencari rumput dan sisa-sisa panen kacang & kedelai di sawah. Satu hal yang aku kagum pada sosok pemuda yang satu ini, dia tidak pernah tertinggal sholat lima waktu. Bahkan dilakukannya di tepi sawah saat dia mencari rumput, apabila suara Adzan sudah terdengar. Sering pula dengan berjamaah di Surau milik Pak Lebe (Lebay/Ustadz).

Satu-satunya pendidikan yang dia dapat hanyalah mengaji di Surau Pak Lebe. Walau dia hanya belajar mengaji melalui pendengaran (lagi-lagi karena Al Qur’an dengan huruf Braile pasti sulit di dapat) tetapi dia cukup hafal surat-surat di Juz Amma, mungkin karena tak pernah absen mengaji dan berkat sholat Subuh berjamaah rutin yang di adakan Pak Lebe di Suraunya, sehingga Kang Slamet banyak mendengar surat-surat yang dibacakan dalam pengajian dan sholat. Tidak jarang Kang Slamet menjadi Imam bila kami anak2 dan remaja sholat berjamaah. Suaranya cukup merdu dan enak di dengar telinga.

Suatu hari, Kang Slamet mendapat kebahagiaan yang tak terperi. Pak Trunosemito, penduduk desa yang punya sedikit kelebihan harta, memberikan cempe (seekor anak kambing) jantan padanya, sebagai ucapan terima kasih atas rumput yang selalu dicarikan kang Slamet untuk kambing-kambing peliharaan. Mata “buta”nya tak dapat menutupi kebahagiaan yang terpancar menyala-nyala dari wajah.

“Ya Gusti Alloh, syukur Alhamdulillah, nek cempene wis gedhe kulo iso melu Qurban, (Syukur Alhamdulillah, kalau anak kambingnya sudah besar, saya bisa ikut Qurban)” dengan keyakinan penuh dia berucap saat kami tanya akan di apakan anak kambing itu.

“Lho…….., apa ora eman-eman, koe iso ngingu, nek wis gedhe iso di dhol neng pasar. Duite iso di tabung (apa tidak sayang, kamu bisa memeliharanya, nanti kalau sudah besar bisa dijual di pasar. Uangnya bisa ditabung)” kami yang berkumpul mendengarkan ucapannya ikut sumbang saran.

“He he he, ora opo opo, nggo Qurban wae (tidak apa-apa, untuk Qurban saja)” sambil tertawa lucu, kang Slamet tetap pada pendiriannya.

Waktu berlalu, kami semua melewatinya dengan rutinitas seperti biasa. Hingga suatu hari tiba musim kemarau yang amat panjang, lain seperti kemarau-kemarau sebelumnya. Sumur milik warga desa satu persatu mulai kering. Semakin jauh saja kami mendapatkan air bersih untuk memasak dan minum. Air di sungai Serayu yang mulai dangkal, meski tampak bening, hanya bisa kami gunakan untuk mandi dan mencuci saja.

Begitu pula tanaman di sawah. Tak satupun yang dapat tumbuh dan mengalahkan teriknya matahari. Para petani di desa kami hanya mengandalkan pengairan dari air hujan (sawah tadah hujan). Semua terkena dampak dari musim paceklik saat itu. Tidak terkecuali Kang Slamet, semakin jauh saja dia “ngangsu” dan “ngarit”, mencari rumput pakan ternak. Melewati jalan setapak yang baru pertama kali di rambah, tentulah bukan hal yang mudah untuk seorang tuna netra. Masih beruntung bila bisa bertemu orang lewat yang bisa di mintai tolong menunjukkan arah menuju sumur yang tidak kering.

Keadaan sulit itu semakin sulit saja bagi kang Slamet, kadang hingga Maghrib dia baru bisa pulang ke rumah dengan badan luluh lantak karena seharian memikul air dan rumput yang tidak seberapa banyak, tetapi jarak yang di tempuh cukup untuk mengitari seluruh desa.

Kang Slamet juga manusia, tak selamanya fisiknya dapat tetap bugar melawan putaran perubahan alam. Akhirnya dia tumbang juga, jatuh sakit. Hampir satu minggu dia tidak muncul melakukan rutinitas seperti biasa. Tugas “ngangsu” sementara digantikan oleh sang Bapak yang mulai renta.

Setelah lewat satu minggu, kesehatan kang Slamet belumlah pulih benar, kembali cobaan menghampirinya. Anak kambing peliharaannya yang mulai besar, tiba-tiba mati. Mungkin tertular penyakit hewan musiman, atau bisa jadi mati kekurangan pakan karena memang sudah lebih seminggu ini tak ada yang memperhatikan.

Anak malang itu sedih bukan alang kepalang. Harta satu-satunya yang dia punya diambil oleh Yang Maha Memiliki. Sirna sudah harapan kang Slamet untuk dapat ber-Qurban.

Beberapa hari setelah berita kematian kambingnya, kami melihat kang Slamet terpekur bersimpuh di sudut Surau. Air bening meleleh deras di kedua pipinya.

Kami tak sampai hati untuk menegurnya ataupun mengucapkan sekedar salam. Hingga datang pak Lebe ke Surau saat Ashar tiba. Melihat yang terjadi, dengan tenang beliau menghampiri bocah yang sedang dirundung nestapa itu.

“Ono opo tho Met? Cah lanang koq nangis? (Ada apa Met? Anak laki-laki koq nangis?)” dengan lembut dan seolah-olah tak tahu kejadian yang terjadi, pak Lebe menepuk pundak kang Slamet.
Kang Slamet tak langsung menjawab, tangan kekarnya berusaha menutupi air mata yang mengalir. Dengan sisa sesenggukan yang ada dia berkata, “Kulo ora iso Qurban pak, sak umur-umur uripku, wedhus iku sing dhadhi karepku nggo tak persembahke ke Gusti Alloh. (Saya tidak bisa ber-Qurban pak, seumur hidupku, kambing itu yang jadi harapan untuk dipersembahkan pada Gusti Allah)”

“mmmm………, Gusti Alloh ngerti kekuatan hamba-hambaNya. Ndak mungkin Gusti Alloh mekso-mekso (memaksa) yen (kalau) hambaNya ndak sanggup.”
dengan sangat tenang dan teduh pak Lebe mengobati kesedihan kang Slamet.

“Jalaran keikhlasan…., wedhuse wis ngenteni awakmu ning Syurgo, kanggo tungganganmu ngesuk ning akherat (Karena keikhlasan….., kambingnya sudah menantimu di Surga, untuk kendaraanmu kelak di akhirat)”

…kalimat terakhir pak Lebe ini yang tidak bisa ku lupa hingga detik ini…

Kini, aku tidak tahu lagi keberadaan dan kabar kang Slamet, hampir dua puluh sembilan tahun yang lalu peristiwa ini terjadi, aku belum bisa menghilangkan rasa “iri” ku pada sosok pemuda tuna netra dengan keikhlasan yang tanpa batas, menembus akal sehat orang yang bekerja di kota besar seperti diriku saat ini. Yang akan sangat berat melepas sebagian hartanya untuk di qurbankan di jalan Allah, apalagi mempersembahkan seluruh harta yang di miliki untuk Allah sang Pemilik Sesungguhnya seluruh alam dan isinya. Kami pekerja kantoran, yang tidak perlu “ngangsu” beratus-ratus meter dengan telanjang kaki hanya untuk mendapatkan dua ember air, dan tak perlu bertahun-tahun “ngarit” hanya untuk seekor anak kambing, tidak mempunyai keikhlasan yang penuh untuk ber-Qurban di jalanNya.

Kami yang mencari rizqi di tempat luar biasa mewah, di atas gedung tinggi menghujam langit, dengan suasana nyaman, duduk di kursi empuk, lebih memilih membeli hewan Qurban “patungan” sumbangan perusahaan dari pada menyediakan sendiri Qurban-nya dari harta yang banyak tersimpan.

Kang Slamet pemuda tuna netra dan miskin, seperti kata pak Lebe, sudah memiliki sendiri kendaraan yang akan digunakannya kelak di akhirat. Sedangkan kami yang berkecukupan hanya menyediakan se-ekor sapi untuk kami tunggangi bersama-sama ratusan orang satu kantor.

www.eramuslim.com
dari lantai sebelas sebuah gedung tinggi di Sudirman, 06 November 2008
(dipersembahkan untuk Kang Slamet, teman satu desa yang kini entah berada di mana, “Aku sangat iri padamu Kang…”)

Assalamu’alaikum,

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. “Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? ” sang Guru bertanya. “Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, ” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.” Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. “Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru. “Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke telaga di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke telaga.” Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke telaga, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan guru, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir telaga. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air telaga, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air telaga yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?” “Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.

Tentu saja, telaga ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air telaga ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?” tanya sang guru “Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air telaga sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.” Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu menjadi seluas telaga agar kau bisa menikmati hidup”

(Cerita ini bukan cerita saya, saya mendapatkan entah dari siapa. Saya hanya sedikit mengedit agar mudah dibaca dan dipahami, tarima kasih kepada seseorang yang telah mengirimkan cerita ini) sumber ; jamil.niriah.com

« Older entries

SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline